Minggu, 06 November 2011

DINAMIKA GLOBALISASI DAN BISNIS INTERNASIONAL

Oleh: Dinar Prisca Putri (070912068)

Seorang sejarawan, Walter LaFaber mengatakan bahwa bisnis yang paling mengglobal di dunia dan yang paling menguntungkan adalah perdagangan obat, namun untuk bisnis yang sah, olahraga mungkin menjadi nomor satu (Daniel, 2007: 3). Secara historis, pemain profesional dan tim mereka masuk dalam olahraga yang paling bersaing di negara mereka sendiri. Terdapat pengecualian, seperti Piala Dunia dalam sepak bola atau Grand Slam tenis. Namun, beberapa pemain bergabung dengan tim dari luar negeri dan beberapa tim luar negeri memang berani untuk bersaing. Tidak lagi puas melihat dan mendukung bakat-bakat lokal, sekarang kita pun cenderung menggunakan standar global untuk menentukan siapa yang terbaik.

Perkembangan dari satelit televisi memungkinkanmu untuk melihat peristiwa secara lagsung hampir di seluruh belahan dunia. Para penggemar olahraga perseorangan, seperti tenis, mungkin telah melihat bahwa para pemainnya seringkali bertanding dari satu turnamen ke turnamen lainnya di berbagai belahan dunia. Tingkat keseringan, koneksi yang mudah dan rendahya biaya penerbangan, tentu saja memungkinka hal tersebut terjadi. Dan sekarang kita dapat melihat tim favorit kita bertanding secara langsung hanya dengan duduk di depan layar televisi. Tim pemilik, perwakilan liga, dan asosiasi olehraga telah menyadari keuntungan yang potensial dari teknologi ini untuk membantu membangun basis penggemar yang dalam perjalananya memungkinkan tim olahraga untuk mendapatkkan penghasilan lebih, terutama melalui iklan (Daniel, 2007: 3).

Penyebaran internasional dalam popularitas olahraga diilustrasikan dengan baik oleh bisbol. Berdasarkan sejarahnya, bisbol awalnya sangat populer hanya di Amerika Serikat dan Kanada. Hingga pada akhirnya, olahraga bisbol mulai ditayangkan di televisi dan membuat popularitas olahraga tersebut naik seketika di jajaran internasional. Karena globalisasi dalam bidang olahraga profesional, sekarang kita dapat menikmati kompetisi olahraga yang besar sekalipun dalam tataran sejarah. Meski demikian, tidak semua orang setuju bahwa globalisasi yang tak terkendali di bidang olahraga tersebut adalah semua untuk kebaikan (Daniel, 2007: 6). Sebagai contoh, para penggemar sepak bola Brazil meratapi kehilangn pemain terbaik mereka. Selain itu, penggemar serta pejabat publik Amerika Serikat memrotes penjualan tim liga bisbol andalan (Seattle Mariners) kepada pihak asing.

Globalisasi berarti sesuatu hal yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda. Globalisasi adalah proses tumbuhnya hubungan saling ketergantungan antar negara-negara dan orang-orang di berbagai belahan dunia Daniel, 2007: 6). Kita mendapatkan suatu jenis barang yang lebih bervariasi, kualitas yang lebih baik atau harga yang lebih murah karena globalisasi. Sebagai contoh, kita bisa membeli rempah-rempah yang tidak bisa tumbuh di halaman sendiri, kita bisa membeli buah segar dan sayuran sepanjang tahun di luar musim di tempat kita tinggal, dan kita dapat membeli mobil dengan pemutar CD yang lebih murah dibandingkan jika semua bagian dan tenaga kerjanya berasal dari satu negara (Daniel, 2007: 7). Namun, hubungan antara pasokan barang dan pasar tidak akan terjadi tanpa bisnis internasional. Bisnis internasional adalah semua transaksi komersial, baik pemerintah yang melakukannya atas keuntungan dan alasan politik, maupun nonpemerintah (privat) yang hanya bertujuan untuk mencari keuntungan, yang kesemuanya itu terjadi antara dua atau lebih negara (Daniel, 2007: 7).

Mengapa bisnis internasional sangat penting untuk dipelajari? Jawaban sederhananya adalah karena bisnis internasional terdiri dari total bisnis dunia yang besar dan sedang berkembang. Selain itu, belajar bisnis internasional menjadi penting karena (1) sebagian besar adalah perusahaan internasional dan perusahaan yang bersaing dengan perusahaan internasional; (2) Model operasional bisa berbeda dari yang digunkan di dalam negeri; (3) Cara terbaik untuk melakukan bisnis mungkin berbeda di masing-masing negara; (4) sebuah pemahaman akan membantu kita membuat keputusan untuk berkarier dengan lebih baik; dan (5) sebuah pemahaman juga akan membantu kita untuk memutuskan apa kebijakan pemerintah yang patut kita dukung (Daniel, 2007: 7).

Tidak ada kesepkatan tegas tentang bagaimana cara mengukur globalisasi. Salah satu alasannya adalah bahwa globalisasi merupakan suatu konsep yang tidak bisa diukur sama sekali (daniel, 2007: 8). Ketika Uni Soviet pecah, transaksi bisnis antara Rusia dan Ukraina beralih dari domestik ke internasional. Namun akibat globalisasi, berbagai indikator telah meningkat sejak pertengahan abad kedua puluh. Sebagian besar barang dan jasa masih dijual di negara tempat mereka memproduksinya. Sementara itu, sumber modal utama di hampir semua negara adalah sumber-sumber domestik, bukan internasional. Oleh karena itu, beberapa negara lebih mengglobal daripada yang lain. Bisnis menjadi lebih global karena (1) teknologi sedang berkembang, khususnya di bidang transportasi dan komunikasi; (2) pemerintah menghapuskan pembatasan internasional; (3) lembaga menyediakan layanan untuk memudahkan jalannya bisnis internasional; (4) konsumen ingin tahu tentang barang dan jasa luar negeri; (5) kompetisi menjadi lebih global; (6) hubungan politik telah membaik antara beberapa kekuatan ekonomi utama; dan (7) negara lebih beroperasi lebih kepada isu-isu transnasional (Daniel, 2007: 9).

Meskipun di atas kita telah membahas tujuh alasan umum atas meningkatnya bisnis internasional dan globalisasi, hasilnya belum tentu bebas dari kontroversi. Bahkan para antiglobalisasi telah memrotes sejumlah pertemuan organisasi internasional dan berusaha menekan perundang-undangan atau dengan berbagai cara lain untuk menghentikan atau paling tidak memperlambat proses globalisasi (Daniel, 2007: 14). Para kritikus dari globalisasi mengungkapkan bahwa globalisasi telah menyebabkan negara kehilangan kedaulatannya, pertumbuhan yang dihasilkan cenderung merusak lingkungan dan beberapa orang bahkan kehilangan secara relatif dan absolut (Daniel, 2007: 14).

Lantas mengapa perusahaan-perusahaan terlibat dalam bisnis internasional? Terdapat tiga tujuan operasional utama yang mendorong perusahaan-perusahaan untuk terlibat dalam bisnis internasional, yaitu (1) untuk memperluas penjualan; (2) untuk memperoleh sumber daya; dan (3) dan untuk meminimalkan risiko (Daniel, 2007: 16). Mengejar penjualan internasional biasanya dapat meningkatkan pasar dan keuntungan secara potensial. Sementara itu, sumber-sumber asing dapat memberikan biaya yang rendah, produk baru atau produk yang lebih baik dan pengetahuan operasional tambahan bagi perusahaan. Sedangkan operasi internasional juga dapat mengurangi risiko operasional dengan memperlancar penjualan dan perolehan keuntungan, serta mencegah pesaing untuk memperoleh keuntungan yang berlebih.

Ketika mengejar bisnis internasional, perusahaan privat dan pemerintah harus memutuskan bagaimana melaksanakan bisnis dan seperti apa modus operasional yang akan digunakan. Secara umum, hal tersebut termasuk dalam kegiatan ekspor impor barang dan jasa, serta investasi asing, baik yang terkendali maupun tidak. Ekspor dan impor barang yang hendak diperdagangkan biasanya merupakan transaksi ekonomi yang paling umum di suatu negara. Ekspor barang merupakan produk nyata yang dikirim ke luar dari suatu negara. Sedangkan impor barang, dimana barang tersebut dibawa masuk ke suatu negara. Karena barang dapat terlihat meninggalkan dan memasuki sebuah negara, terkadang disebut juga sebagai ekspor dan impor yang terlihat. Ekspor dan impor di sini merupakan istilah yang sering berlaku bagi barang yang hendak diperdagangkan, bukan jasa.

Jasa ekspor dan impor dapat diartikan sebagai penjualan dan pembelian internasional yang menghasilkan pendapatan internasional nonproduk. (Daniel, 2007: 19). Perusahaan atau individu menerima pembayaran jika melakukan jasa ekspor. Sebaliknya, perusahaan atau individu harus membayar jika menggunakan jasa impor. Seagai contoh, antara lain jasa perjalanan, transportasi, perbankan, asuransi dan penggunaan aset, seperti merek dagang, paten dan hak cipta. Hal-hal tersebut tentunya sangat penting bagi beberapa negara. Sementara itu, investasi asing di sini berarti kepemilikan properti asing dalam pertukaran kembali untuk sebuah pengembalian dalam hal finansial, seperti bunga dan deviden (Daniel, 2007: 20). Investasi asing mengambil dua bentuk, yaitu investasi langsung dan portofolio. Sebuah investasi langsung melibatkan kontrol dari perusahaan asing. Sedangkan komponen kunci dari investasi portofolio adalah tidak adanya kontrol dari operasional asing dan terdapat keuntungan finansial di dalamnya, misalnya pinjaman.

Modus suatu perusahaan yang beroperasi secara internasional, beberapa diantaranya mungkin berbeda dari yang digunakan di ranah lokal. Perusahaan tidak seharusnya membentuk strategi dan kemudian mengaplikasikannya tanpa mempelajari lingkungan eksternalnya terlebih dahulu (Daniel, 2007: 21). Lingkungan eksternal tersebut meliputi faktor fisik, seperti politik suatu negara, budaya, hukum dan ekonomi. Politik juga seringkali menentukan dimana dan bagaimana bisnis internasional dapat berlangsung. Setiap negara memiliki hukum sendiri untuk mengatur bisnis yang berjalan di negaranya. Kesepakatan negara-negara tentang berbagai hal tersebut tertuang dalam hukum internasional. Ekonomi juga dapat menjelaskan perbedaan negara dalam hal biaya, nilai mata uang dan ukuran pasar (Daniel, 2007: 23). Sementara kondisi alamiah dapat mempengaruhi apa yang diproduksi di sana.

Faktor-faktor kompetitif, seperti jumlah dan kekuatan pemasok, pelanggan dan perusahaan saingan juga termasuk dalam lingkungan eksternal (Daniel, 2007: 21). Sebuah lingkungan yang kompetitif terdiri atas industri, perusahaan dan negara, sehingga demikian perlu melakukan strategi internasional. Lingkungan yang kompetitif juga bervariasi di antara negara-negara di dunia. Situasi perusahaan di berbagai negara dapat dibedakan berdasarkan peringkat kompetitif dan pesaing yang dihadapinya. Oleh karena itu, manajer dalam bisnis internasional harus paham betul disiplin ilmu sosial dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi semua aspek dalam bisnis internasional.

Daftar Pustaka:
Daniels, John D., Radebaugh, Lee H & Sulivan, Daniel P.. 2007. “Globalization and International Business” dalam International Business: Environment and Operations. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Jumat, 09 September 2011

RINTIK


Gambar 1: http://maulidamulyarahmawati.files.wordpress.com/2011/06/hujan2.jpg

Mengapa tak henti malu-malu?

Mengintip di balik pintu sebelum maju.

Sadarkah kau?

Merah ini terlalu lama menunggumu.


Gambar 2: http://www.diperta.jabarprov.go.id/assets/images/berita/SawahKering.jpg

Namun tak jua tiba kabar darimu.

Kau tetap kekal di peraduanmu.

Sementara fulan terus mengelu-elukan namamu.


Gambar 3: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmPqyj4cdFutjlpQKlyXNVLw6EkSlM2ZV0ycCKhzpvoTZaTeGhgllZcVfILJvSV-NVt1rJDajaTH6z4yShYc9BPdiOhH3vgbhRz9UB02NlNaxDwop8yuL70Fut9_EJkUQh9jRsvAf7o3tg/s1600/siluet212.jpg

Mengadahkan tangan dan memujukmu hingga kelu.

Dengan rindu yang tak pandang bulu .

Rupanya sekadar rajukan tak mampu.

Mengapa?

Masihkah ragu?

Untuk datang entaskan sendu yang menyerbu.

Karena rintihmu kisahkan keluh namun menyentuh.

Karena sentuhmu pulihkan rapuh yang tak kunjung sembuh.


Gambar 4: http://asqfish.files.wordpress.com/2009/12/three-leaf-clover-in-rain.jpg

Bojonegoro, 9 September 2011

Kamis, 30 Juni 2011

SINUSITIS: GEJALA DAN PENANGGULANGANNYA

Apakah anda termasuk dalam golongan orang yang suka mengabaiakan penyakit-penyakit ringan seperti demam, sakit kepala atau pilek? Semoga tidak. Karena penyakit yang nampaknya tidak berbahaya tersebut bisa saja merupakan bentuk awal dari gejala atau tanda-tanda penyakit yang sifatnya lebih berbahaya. Contohnya saja, sinusitis. Umumnya, sinusitis dimulai dengan pilek yang disebabkan oleh virus. Kadang salesma menghasilkan begitu banyak lendir hingga saluran hidung yang tersumbat menjadi penuh. Akibatnya, bakteri dalam sinus yang seharusnya berjumlah sedikit, menjadi berkembang dan menyebabkan sinusitis bakteri. Seperti halnya yang pernah saya alami beberapa bulan lalu.


Gambar 1. http://bni6y3b.devhub.com/img/upload/sinus-graphic.gif

Awalnya, saya pikir hanya menderita sakit pilek biasa. Karena gejalanya hampir sama, yaitu selalu bersin-bersin dan sesekali mengeluarkan cairan kental (ingus) dari hidung. Meski telah meminum obat dekongestan yang biasa diual di pasaran, ternyata penyakit saya tersebut tidak kunjung mereda bahkan ketika sudah hampir mencapai dua minggu. Tanpa saya sadari, ternyata ingus kemudian berubah menjadi lebih kental dan hampir berwarna hijau kekuningan. Selain itu, saya juga seringkali mengalami sakit berupa nyeri di sekitar mata atau pipi (area sinus). Akan terasa lebih sakit lagi ketika ditekan atau pada saat menundukkan kepala ke bawah. Selain itu pula akan terjadi pembengkakan di kelopak mata atau daerah sekitar mata. Gejala lain yang dapat ditimbulkan, berupa demam, sakit kepala, kesulitan bernapas melalui hidung, sakit gigi (jarang terjadi) dan napas berbau yang tidak ada hubungannya dengan gigi.

Disamping berbagai macam gejala di atas, saya juga sempat mengalami pendarahan pada hidung. Dimana setiap kali mengeluarkan ingus, selalu diikuti dengan keluarnya darah dari hidung. Awalnya saya menganggap hanya terjadi semacam luka di daerah dinding hidung akibat pilek yang berkepanjangan. Namun nyatanya, gejala keluarnya darah seperti itu tidak segera berhenti setelah lebih dari tujuh hari. Saya tidak begitu resah dengan keluarnya darah dari hidung, karena saya tidak merasakan sakit atau nyeri apapun ketika darah tersebut keluar bersamaan dengan ingus. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan diri di salah satu klinik yang cukup dikenal di Surabaya, tepatnya di bagian Poli Kesehatan Telinga, Hidung dan Tenggorokan.

Sampai di sana, saya bertemu dengan seorang dokter spesialis. Setelah mendengar gejala yang saya alami, dokter tersebut mendiagnosa saya tengah menderita gangguan pada sinus, yaitu sinusitis. Sinusitis dapat terjadi jika salah satu atau beberapa lapisan sinus terinfeksi. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Untuk memastikan, apakah saya positif menderita sinusitis atau tidak, maka dokter menyarankan saya untuk melakukan tes rontgen. Akhirnya saya pun menuju ke laboratorium yang letaknya tidak jauh dari klinik tempat saya memeriksakan diri. Setelah foto rontgen keluar, saya dapat benar-benar dipastikan mengalamai gangguan pada sinus atau sinusitis. Foto sinar X atau CT scan tersebut juga bertujuan untuk melihat sinus mana yang bermasalah. Dan dalam foto rontgen tersebut, dokter memperlihat pada saya letak sinus maksilaris. Sinus ini terletak di area sekitar pipi (dekat hidung). Nampak sekali bahwa terdapat adanya lendir yang memenuhi atau menyumbat daerah sinus maksilaris saya. Hal ini lah yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri di daerah sekitar pipi, karena saluran hidung tersumbat akibat salesma yang mengeluarkan banyak lendir, sehingga bakteri dapat dengah mudah berkembang biak.


Gambar 2. http://wulansukma.files.wordpress.com/2010/08/sinusitis-jadi.jpg

Dokter akhirnya meminta saya untuk menjalani operasi kecil esok hari. Di samping itu, beliau juga memberikan obat-obatan yang disesuaikan dengan penyebab sinusitis yang saya derita. Dokter menduga, sinusitis yang saya alami selain disebabkan oleh kuman juga akibat alergi. Jika alergi terhadap alergen yang dihirup, seperti serbuk sari, bulu hewan atau kutu debu misalnya, maka tubuh akan menganggap partikel yang tidak berbahaya tersebut sebagai penyerang. Sistem imun akan mengadakan perlawanan yang timbul sebagai gejala alergi, biasanya dalam bentuk hidung tersumbat, bersin-bersin, mata gatal dan mata berair. Reaksi semacam ini dapat mengarah pada sinusitis. Karena alergi cenderung bersifat menetap, maka dapat menyebabkan sinusitis kronis. Oleh sebab itu, selain memberikan antibiotik (penanganan untuk infeksi yang disebabkan oleh jamur) dalam jangka panjang pemakaian selama 10-14 hari, dokter juga memberikan obat alergi untuk mengurangi gejala alergi sekaligus mengurangi jumlah dan beratnya serangan sinus. Biasanya juga ditambah dengan obat penghilang rasa sakit. Termasuk di sini aspirin, ibuprofen dan asitaminofen.

Keesokan harinya, tiba saatnya saya menjalani operasi di kediaman dokter spesialis yang sebelumnya memeriksa saya di klinik. Terkadang sinusitis tidak juga sembuh walau sudah diobati. Oleh karena itu, dokter seringkali melakukan operasi sinus endoskopis untuk memperbaiki mekanisme pembuangan cairan lendir. Pembedahan ini, di samping dapat mengurangi gejala, juga tanpa sayatan atau luka parut. Pembedahan endoskopis biasanya dilakukan dengan pembiusan total (pada waktu itu saya tetap sadar, tidak dilakukan pembiusan total dan dalam posisi duduk). Dokter memasukkan endoskop dan alat pemotong halus ke dalam lubang hidung dan sinus yang tersumbat. Dokter kemudian akan membuang membran sinus yang terinfeksi, polip dan fragmen tulang yang menyumbat sinus. Dokter juga akan memperbesar lubang sinus dan menyedot semua cairan yang terperangkap menggunakan alat hisap kecil. Prosedur ini tidak memerlukan rawat inap, karena dalam beberapa hari kita dapat beraktivitas kembali seperti semula.


Gambar 3. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilZqupMxfW747jKD4OdAdeXeWrFVo94hyghEVYVeu095qy4WYEgcAKWpUbjiCqeo5ukyyt4KCHjdlJn6Uf4kMpltJMMRTY42bE3aScsXe_giFKD0tAC6GRIYumGUO65bZu7K0Nk1BlIX-g/s640/smell5.jpg

Setelah pembedahan, kita biasanya akan merasakan sakit kepala ringan, untuk kemudian diperlukan antibiotik dan obat penghilang rasa sakit. Dalam keadaan normal, pada dua minggu pertama setelah operasi akan masih ada rasa tidak nyaman dan pendarahan dari hidung. Sehingga setelah pembedahan, kita harus segera kembali ke dokter untuk check-up dan membuang darah kering. Ada kalanya, sumbatan sinus terulang lagi dan harus melakukan pembedahan ulang. Jadi, masihkah kita menganggap remeh suatu penyakit? Mulai sekarang, kita harus lebih tanggap dan peduli terhadap kesehatan kita sendiri. Salam sehat!^^v

Jumat, 10 Juni 2011

Kondisi Ekonomi dan Politik Korea Selatan

Pecahnya Korea
Perang Dunia II
Konferensi Kairo 1943
1945 – 1948 Korea “Mandat PBB”

Adanya perbedaan konsep dan kepentingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet:
1. Rusia dan Cina masih 1 Kubu, komunisme  setelah Perang Dunia II ada kehendak bahwa dunia akan dipimpin oleh kubu komunisme  pahamnya lebih banyak di utara.
2. Saat eropa ingin masuk ke Korea  Korea harus membuka pelabuhannya untuk barat sehingga terpengaruh dari pemikiran ini dan menjadi lebih demokratis.
3. Unisoviet “aksi”  Amerika Serikat “mereaksi”
4. Uni Soviet selalu menegaskan bahwa Korea harus dibagi dua (pembagian  pemilu)  terjadilah perang Korea 1950-1953 (Korea Utara di bawah Uni Soviet dan Korea Selatan di bawah Amerika Serikat)  perang tidak mendatangkan hasil  Korea akhirnya terpecah.

15 Agustus 1948  Kemerdekaan Korea Selatan
25 Agustus 1948  Kemerdekaan Korea Utara



Karakteristik Sosial Ekonomi Korea:
-Pernah menjadi salah satu “Macan Asia”
-Keberhasilan Korea tahun 1980  akibat adanya keberhasilan dari seorang diktator militer (Park Chung Hae), namun sarat dengan sistem yang represif  Kemajuan ekonomi Korea Selatan.
-Kebijakan Ekonomi  tergantung pada perekonomian global (Ex: Jika terjadi suatu krisis, maka mereka kolaps)
Bersifat terbuka  bekerjasama dengan negara lain, MNc, dan sebagainya
Kemajuan teknologi informasi, sehingga bisa bersaing dengan produk luar yang berkembang cepat.

Karakteristik Budaya:
-Sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Cina.

Karakteristik Politik:
-Multipartai  Namun ada satu Partai yang mendominasi  Park Chun Hae membuat UU  DPR diberi wewenang untuk mengangkat sepertiga dari panitia pemilu.
-Sistem politiknya bersifat lebih stabil.

Karakteristik politik luar negeri Korea Selatan  Beraliansi ke Barat, bersifat lebih terbuka, menjalin hubungan baik dengan Cina dan ASEAN, melakukan kerjasama hubungan keamanan dengan Amerika Serikat.


Sumber:
Kuliah MBP Asia Timur, 8 Juni 2011.

Sabtu, 28 Mei 2011

KONSEKUENSI KULTURAL TERHADAP GLOBALISASI

1.Homogenisasi
Culture menjadi sesuatu yang tunggal (homogen)  sering diasosiasikan dengan kultur Barat (Amerika  Americanization). Konsekuensi ekonomi global (bercermin pada ekonomi Amerika), maka culture ikut mengglobal.
Amerikanisasi dianggap sebagai sebuah ancaman, sehingga timbul gerakan yang menolak homogenisasi budaya dengan berbagai macam bentuk. Ex: Jihad, gerakan-gerakan fundamentalisme, nasionalisme (semua bersifat cultural resistance). Ada kultur tertentu yang merasa terjajah oleh yang lain (Ex: Indonesianisasi mungkin lebih bebahaya dari Amerikanisasi untuk orang Papua; atau Japanization lebih berbahaya dari Americanization bagi orang Korea).

2.Polarisasi
Menganggap adanya “the limit of cultural homogenization”  polarization. Orientalisme (Edward)  seolah-olah menganggap bahwa Western lebih penting, populer, dominan, rasional, dan lebih benar dari Eastern. Ada semacam dikotomi antara Barat dan Timur. Barat: dinamis, rasional, civilize, fungsional, scientific; Timur: tidak berubah sama sekali, irrasional, barbarian, disfungsional, supercicious. Tidak akan ada homogenisasi budaya, tapi akan terus terpolarisasi (tidak mungkin tunggal). Pada intinya menganggap civilization yang sangat bertabrakan antara dunia Barat (Mc World) dan Timur.
Kritik: “How to define culture?”
Contoh polarisasi: Western mulai menuju ketimuran (Easternized) melalui kontak-kontak antar budaya.

3.Hibridisasi

Hasil dari pencampuran berbagai macam budaya. Ex: Bahasa Indonesia, Bahasa Esperanto (kontra: dianggap sebagai proyek gagal  dianggap bukan bahasa hibrid, dikonstruksi untuk dipakai dimana saja, namun gagal karena terlalu membingungkan). Interaksi kultural yang terus menerus akan membentuk hibridisasi (Ulf Hannerz, 1992). Sulit untuk mengatakan atau tidak ada jaminan bahwa budaya itu benar-benar murni, tanpa bercampur dengan budaya lain. Bisa berasal dari kolonialisasi, migrasi, cross-border employment, different cultural background intermarriage.

NB:
Revie Kuliah "Kosmopolitanisme, Nasionalisme, dan Fundamentalisme" (27 Mei 2011)

PROMISE

Oleh: Dinar Prisca Putri

Krizan dan Eza sudah terbiasa bersama bahkan semenjak mereka berada di Sekolah Dasar. Perbedaan latar belakang di antara keduanya pun tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalin sebuah hubungan persahabatan. Dan kini mereka telah duduk di bangku SMA. Namun ikatan yang sudah lama terbangun di antara keduanya harus terputus ketika Krizan terpaksa meninggalkan Jakarta dan tinggal bersama Pamannya di Surabaya, sepeninggal kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan. Layaknya Eza, Krizan pun sangat menyukai hujan. Baginya, aroma hujan bagaikan surga. Itu sebabnya, gadis keturunan Cina itu berjanji akan kembali saat musim hujan tiba dan meminta Eza untuk selalu menunggunya di halte depan sekolah. Namun semenjak kepergiannya, Eza tak pernah bertemu Krizan lagi.

Enam tahun telah berlalu. Dan sesuai janjinya, Krizan kembali. Semuanya masih sama di matanya. Bahkan halte di depan sekolah juga tak berubah. Hanya saja, tak ada Eza yang sedia menunggunya di sana. Sampai di Panti Asuhan tempat Eza dibesarkan, seorang kepala asrama memberikan sebuah buku harian kepadanya. Lagi-lagi, Krizan tak menemukan Eza. Ibu asrama juga tak mengatakan apa-apa perihal laki-laki itu. Hanya buku harian milik Eza yang berada di tangannya kini. Laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu menulis tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi bersama semasa kecil. Termasuk hutan di belakang sekolah. Gadis yang namaya menyerupai bunga Cryzantium itu menuju ke hutan, dengan harapan bahwa Eza juga berada di sana dan menunggunya. Ia menerobos jalanan hutan yang gelap, hingga menemukan seberkas sinar matahari di ujung jalan. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati tempat itu berisikan penuh dengan bunga Cryzantium putih yang tumbuh dengan indahnya di sana. Krizan melanjutkan perjalanan dan menemukan Eza. Ya, dia benar-benar menemukannya. Namun yang dilihatnya hanya sebuah batu nisan bertuliskan “Eza Mahardika” yang berdiri dengan kokonhnya di atas gundukan tanah merah yang masih basah.

Dear, Krizanku...
Maafkan aku. Mungkin aku tak bisa menepati janjiku untuk menunggumu di setiap musim hujan tiba, di halte bus depan sekolah. Karena saat kau membaca halaman terakhir dari buku harian ini, mungkin kau sudah menemukan aku (jika kau beruntung). Tapi pada saat itu, kita tak bisa lagi bertatap muka atau bahkan sekedar berbincang-bincang ringan seperti dulu.
Sebelumnya Kuputuskan untuk menanam banyak sekali bunga Cryzantium putih untuk membunuh rasa rinduku padamu. Aku menyayangimu Krizan. Bahkan mungkin aku mulai mencintaimu sekarang. Dan perasaan itulah yang terus memberi aku kekuatan. Penyakit kanker yang bersarang di otakku, mengharuskan aku untuk melakukan operasi. Namun aku tak pernah melakukannya. Karena jika operasi itu berjalan lancar, aku akan kehilangan memori apapun di otakku, termasuk tentangmu, tentang kita. Dan aku tak mau. Aku ingin mengingat namamu sampai saat aku pergi nanti.
Selamat tinggal Krizan, kepalaku sudah bertambah sakit sekarang. Dan pertahananku nampaknya mulai terkikis secara perlahan. Permintaanku sangat sederhana. Ingatlah aku di saat kesenangan dan kesusahanmu,karena dengan begitu aku akan tetap hidup.
Eza Mahardika
Mei 2011


Air mata Krizan jatuh bersama rintihan hujan yang terus turun. Dan sekilas yang cepat, ia mlihat Eza berdiri di sampingnya.

Rabu, 11 Mei 2011

For Mahasti

My little sister (Mahasti Ramadita Putri almh.).....
I miss you so much (again).
Hope you be in the best place on God's side.

:')
I believe you no longer feel pain near The God.

Selasa, 10 Mei 2011

PENCAPAIAN ASEAN DALAM PEMBENTUKAN KOMUNITAS KEAMANAN ASEAN

Oleh: Dinar Prisca Putri

Keberlangsungan ASEAN Security Community sebagai salah satu pilar dari ASEAN Community yang diusung dalam Deklarasi Bali Concord II telah memunculkan banyak perdebatan di kalangan akademis dan para peneliti. Mereka diantaranya adalah Karl Deutch yang beraliran liberal dan Michael Liefer yang beraliran realis. Kedua tokoh tersebut pada dasarnya tidak setuju apabila ASEAN dijadikan sebagai suatu model komunitas keamanan. Sebab menurut mereka, ASEAN belum memenuhi syarat-syarat suatu komunitas bisa disebut sebagai komunitas kemanan.

Menurut pandangan Deutch, selain tidak adanya konflik bersenjata yang menyangkut perbatasan dan sejenisnya, suatu masyarakat keamanan dicirikan dengan tidak adanya rasa saling curiga terhadap negara-negara tetangga atas kemungkinan dilakukannya serangan. Dengan kata lain, terdapat jaminan bahwa tidak akan ada suatu negara yang dengan sengaja “menciderai” negara lain. Syarat suatu komunitas menurut Deutch sendiri, antara lain adalah adanya integrasi, interdependensi, supra level institution, dan communality.

Integrasi ditandai dengan adanya pembentukan suatu organisasi yang bersifat formal maupun informal yang dapat menjamin terciptanya suatu perdamaian yang berkelanjutan. Integrasi juga tidak selalu hanya bisa diartikan dengan hilangnya sebagian kedaulatan suatu negara, tapi dalam hal ini lebih kepada interdependensi yang kuat dalam berbagai hal antara negara satu dengan negara yang lain. Contoh sederhana adalah besar biaya atau tarif telepon lintas negara, antara Australia dan Indonesia yang sangat jauh berbeda. Hal itu tentu saja dapat menunjukkan kurang adanya integrasi antar kedua negara tersebut. Selain itu, faktor communality dalam hal persamaan ideologi, budaya, sosial, dan agama juga tidak tercermin dalam komunitas ASEAN. Kita sendiri mengetahui bahwa negara-negara anggota ASEAN terdiri dari beragam ideologi, budaya, dan agama yang berbeda. Oleh karena itu menurut Deutch, sangat sulit sekali untuk mempersatukan negara-negara kawasan Asia Tenggara di bawah payung suatu komunitas ASEAN. Berbeda dengan Uni Eropa yang megharuskan negara-negara yang hendak menjadi anggota UE untuk memiliki ideologi yang sama, yaitu Demokrasi. Dengan demikian akan mudah untuk membentuk suatu komunitas.

Sementara dalam pandangan realis yang diwakili oleh Michael Liefer, suatu komunitas haruslah memiliki persepsi ancaman yang sama (negara mana yang ditengarai menjadi ancaman bagi negara lain). Jika tidak, akan sangat sulit untuk membentuk suatu komunitas, khususnya sebuah komunitas keamanan yang menjadi impian negara-negara anggota ASEAN. Perbedaan persepsi tersebut disebabkan oleh adanya beberapa hal yang bersifat signifikan, salah satunya seperti hubungan suatu negara dengan negara lain. Contoh, hubungan Singapura dan Israel yang sangat dekat, berbeda dengan Indonesia yang cenderung mengecam setiap tindakan dari Israel (khususnya menyangkut masalah Palestina).

Akhirnya, prospek pencapaian atau keberhasilan ASEAN dalam pembentukan ASEAN Community yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community), Masyarakat Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community), dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Econimic Community) akan dapat dilihat melalui terlaksana atau tidaknya Visi ASEAN 2020 (yang diajukan menjadi tahun 2015), mengingat banyak sekali kendala dan tantangan yang harus dihadapi ASEAN sendiri dalam mewujudkan suatu komunitas di dalam wadah ASEAN Community.


NB:
Berdasarkan kuliah MBP Asia Tenggara, 10 Mei 2011.

PENCAPAIAN ASEAN DALAM PEMBENTUKAN KOMUNITAS KEAMANAN ASEAN

Oleh: Dinar Prisca Putri

Keberlangsungan ASEAN Security Community sebagai salah satu pilar dari ASEAN Community yang diusung dalam Deklarasi Bali Concord II telah memunculkan banyak perdebatan di kalangan akademis dan para peneliti. Mereka diantaranya adalah Karl Deutch yang beraliran liberal dan Michael Liefer yang beraliran realis. Kedua tokoh tersebut pada dasarnya tidak setuju apabila ASEAN dijadikan sebagai suatu model komunitas keamanan. Sebab menurut mereka, ASEAN belum memenuhi syarat-syarat suatu komunitas bisa disebut sebagai komunitas kemanan.

Menurut pandangan Deutch, selain tidak adanya konflik bersenjata yang menyangkut perbatasan dan sejenisnya, suatu masyarakat keamanan dicirikan dengan tidak adanya rasa saling curiga terhadap negara-negara tetangga atas kemungkinan dilakukannya serangan. Dengan kata lain, terdapat jaminan bahwa tidak akan ada suatu negara yang dengan sengaja “menciderai” negara lain. Syarat suatu komunitas menurut Deutch sendiri, antara lain adalah adanya integrasi, interdependensi, supra level institution, dan communality.

Integrasi ditandai dengan adanya pembentukan suatu organisasi yang bersifat formal maupun informal yang dapat menjamin terciptanya suatu perdamaian yang berkelanjutan. Integrasi juga tidak selalu hanya bisa diartikan dengan hilangnya sebagian kedaulatan suatu negara, tapi dalam hal ini lebih kepada interdependensi yang kuat dalam berbagai hal antara negara satu dengan negara yang lain. Contoh sederhana adalah besar biaya atau tarif telepon lintas negara, antara Australia dan Indonesia yang sangat jauh berbeda. Hal itu tentu saja dapat menunjukkan kurang adanya integrasi antar kedua negara tersebut. Selain itu, faktor communality dalam hal persamaan ideologi, budaya, sosial, dan agama juga tidak tercermin dalam komunitas ASEAN. Kita sendiri mengetahui bahwa negara-negara anggota ASEAN terdiri dari beragam ideologi, budaya, dan agama yang berbeda. Oleh karena itu menurut Deutch, sangat sulit sekali untuk mempersatukan negara-negara kawasan Asia Tenggara di bawah payung suatu komunitas ASEAN. Berbeda dengan Uni Eropa yang megharuskan negara-negara yang hendak menjadi anggota UE untuk memiliki ideologi yang sama, yaitu Demokrasi. Dengan demikian akan mudah untuk membentuk suatu komunitas.

Sementara dalam pandangan realis yang diwakili oleh Michael Liefer, suatu komunitas haruslah memiliki persepsi ancaman yang sama (negara mana yang ditengarai menjadi ancaman bagi negara lain). Jika tidak, akan sangat sulit untuk membentuk suatu komunitas, khususnya sebuah komunitas keamanan yang menjadi impian negara-negara anggota ASEAN. Perbedaan persepsi tersebut disebabkan oleh adanya beberapa hal yang bersifat signifikan, salah satunya seperti hubungan suatu negara dengan negara lain. Contoh, hubungan Singapura dan Israel yang sangat dekat, berbeda dengan Indonesia yang cenderung mengecam setiap tindakan dari Israel (khususnya menyangkut masalah Palestina).

Akhirnya, prospek pencapaian atau keberhasilan ASEAN dalam pembentukan ASEAN Community yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community), Masyarakat Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community), dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Econimic Community) akan dapat dilihat melalui terlaksana atau tidaknya Visi ASEAN 2020 (yang diajukan menjadi tahun 2015), mengingat banyak sekali kendala dan tantangan yang harus dihadapi ASEAN sendiri dalam mewujudkan suatu komunitas di dalam wadah ASEAN Community.


NB:
Berdasarkan kuliah MBP Asia Tenggara, 10 Mei 2011.

Kamis, 28 April 2011

Doa Ketika Mendapat Mimpi Buruk

أَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ وَسَيِّئاَتِ اْلأَحْلاَمِ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN AMALISY SYAITHAANI WASAYYI-AATIL AHLAAM.

"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari tingkah laku setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk."