Kamis, 30 Juni 2011

SINUSITIS: GEJALA DAN PENANGGULANGANNYA

Apakah anda termasuk dalam golongan orang yang suka mengabaiakan penyakit-penyakit ringan seperti demam, sakit kepala atau pilek? Semoga tidak. Karena penyakit yang nampaknya tidak berbahaya tersebut bisa saja merupakan bentuk awal dari gejala atau tanda-tanda penyakit yang sifatnya lebih berbahaya. Contohnya saja, sinusitis. Umumnya, sinusitis dimulai dengan pilek yang disebabkan oleh virus. Kadang salesma menghasilkan begitu banyak lendir hingga saluran hidung yang tersumbat menjadi penuh. Akibatnya, bakteri dalam sinus yang seharusnya berjumlah sedikit, menjadi berkembang dan menyebabkan sinusitis bakteri. Seperti halnya yang pernah saya alami beberapa bulan lalu.


Gambar 1. http://bni6y3b.devhub.com/img/upload/sinus-graphic.gif

Awalnya, saya pikir hanya menderita sakit pilek biasa. Karena gejalanya hampir sama, yaitu selalu bersin-bersin dan sesekali mengeluarkan cairan kental (ingus) dari hidung. Meski telah meminum obat dekongestan yang biasa diual di pasaran, ternyata penyakit saya tersebut tidak kunjung mereda bahkan ketika sudah hampir mencapai dua minggu. Tanpa saya sadari, ternyata ingus kemudian berubah menjadi lebih kental dan hampir berwarna hijau kekuningan. Selain itu, saya juga seringkali mengalami sakit berupa nyeri di sekitar mata atau pipi (area sinus). Akan terasa lebih sakit lagi ketika ditekan atau pada saat menundukkan kepala ke bawah. Selain itu pula akan terjadi pembengkakan di kelopak mata atau daerah sekitar mata. Gejala lain yang dapat ditimbulkan, berupa demam, sakit kepala, kesulitan bernapas melalui hidung, sakit gigi (jarang terjadi) dan napas berbau yang tidak ada hubungannya dengan gigi.

Disamping berbagai macam gejala di atas, saya juga sempat mengalami pendarahan pada hidung. Dimana setiap kali mengeluarkan ingus, selalu diikuti dengan keluarnya darah dari hidung. Awalnya saya menganggap hanya terjadi semacam luka di daerah dinding hidung akibat pilek yang berkepanjangan. Namun nyatanya, gejala keluarnya darah seperti itu tidak segera berhenti setelah lebih dari tujuh hari. Saya tidak begitu resah dengan keluarnya darah dari hidung, karena saya tidak merasakan sakit atau nyeri apapun ketika darah tersebut keluar bersamaan dengan ingus. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan diri di salah satu klinik yang cukup dikenal di Surabaya, tepatnya di bagian Poli Kesehatan Telinga, Hidung dan Tenggorokan.

Sampai di sana, saya bertemu dengan seorang dokter spesialis. Setelah mendengar gejala yang saya alami, dokter tersebut mendiagnosa saya tengah menderita gangguan pada sinus, yaitu sinusitis. Sinusitis dapat terjadi jika salah satu atau beberapa lapisan sinus terinfeksi. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Untuk memastikan, apakah saya positif menderita sinusitis atau tidak, maka dokter menyarankan saya untuk melakukan tes rontgen. Akhirnya saya pun menuju ke laboratorium yang letaknya tidak jauh dari klinik tempat saya memeriksakan diri. Setelah foto rontgen keluar, saya dapat benar-benar dipastikan mengalamai gangguan pada sinus atau sinusitis. Foto sinar X atau CT scan tersebut juga bertujuan untuk melihat sinus mana yang bermasalah. Dan dalam foto rontgen tersebut, dokter memperlihat pada saya letak sinus maksilaris. Sinus ini terletak di area sekitar pipi (dekat hidung). Nampak sekali bahwa terdapat adanya lendir yang memenuhi atau menyumbat daerah sinus maksilaris saya. Hal ini lah yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri di daerah sekitar pipi, karena saluran hidung tersumbat akibat salesma yang mengeluarkan banyak lendir, sehingga bakteri dapat dengah mudah berkembang biak.


Gambar 2. http://wulansukma.files.wordpress.com/2010/08/sinusitis-jadi.jpg

Dokter akhirnya meminta saya untuk menjalani operasi kecil esok hari. Di samping itu, beliau juga memberikan obat-obatan yang disesuaikan dengan penyebab sinusitis yang saya derita. Dokter menduga, sinusitis yang saya alami selain disebabkan oleh kuman juga akibat alergi. Jika alergi terhadap alergen yang dihirup, seperti serbuk sari, bulu hewan atau kutu debu misalnya, maka tubuh akan menganggap partikel yang tidak berbahaya tersebut sebagai penyerang. Sistem imun akan mengadakan perlawanan yang timbul sebagai gejala alergi, biasanya dalam bentuk hidung tersumbat, bersin-bersin, mata gatal dan mata berair. Reaksi semacam ini dapat mengarah pada sinusitis. Karena alergi cenderung bersifat menetap, maka dapat menyebabkan sinusitis kronis. Oleh sebab itu, selain memberikan antibiotik (penanganan untuk infeksi yang disebabkan oleh jamur) dalam jangka panjang pemakaian selama 10-14 hari, dokter juga memberikan obat alergi untuk mengurangi gejala alergi sekaligus mengurangi jumlah dan beratnya serangan sinus. Biasanya juga ditambah dengan obat penghilang rasa sakit. Termasuk di sini aspirin, ibuprofen dan asitaminofen.

Keesokan harinya, tiba saatnya saya menjalani operasi di kediaman dokter spesialis yang sebelumnya memeriksa saya di klinik. Terkadang sinusitis tidak juga sembuh walau sudah diobati. Oleh karena itu, dokter seringkali melakukan operasi sinus endoskopis untuk memperbaiki mekanisme pembuangan cairan lendir. Pembedahan ini, di samping dapat mengurangi gejala, juga tanpa sayatan atau luka parut. Pembedahan endoskopis biasanya dilakukan dengan pembiusan total (pada waktu itu saya tetap sadar, tidak dilakukan pembiusan total dan dalam posisi duduk). Dokter memasukkan endoskop dan alat pemotong halus ke dalam lubang hidung dan sinus yang tersumbat. Dokter kemudian akan membuang membran sinus yang terinfeksi, polip dan fragmen tulang yang menyumbat sinus. Dokter juga akan memperbesar lubang sinus dan menyedot semua cairan yang terperangkap menggunakan alat hisap kecil. Prosedur ini tidak memerlukan rawat inap, karena dalam beberapa hari kita dapat beraktivitas kembali seperti semula.


Gambar 3. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilZqupMxfW747jKD4OdAdeXeWrFVo94hyghEVYVeu095qy4WYEgcAKWpUbjiCqeo5ukyyt4KCHjdlJn6Uf4kMpltJMMRTY42bE3aScsXe_giFKD0tAC6GRIYumGUO65bZu7K0Nk1BlIX-g/s640/smell5.jpg

Setelah pembedahan, kita biasanya akan merasakan sakit kepala ringan, untuk kemudian diperlukan antibiotik dan obat penghilang rasa sakit. Dalam keadaan normal, pada dua minggu pertama setelah operasi akan masih ada rasa tidak nyaman dan pendarahan dari hidung. Sehingga setelah pembedahan, kita harus segera kembali ke dokter untuk check-up dan membuang darah kering. Ada kalanya, sumbatan sinus terulang lagi dan harus melakukan pembedahan ulang. Jadi, masihkah kita menganggap remeh suatu penyakit? Mulai sekarang, kita harus lebih tanggap dan peduli terhadap kesehatan kita sendiri. Salam sehat!^^v

Jumat, 10 Juni 2011

Kondisi Ekonomi dan Politik Korea Selatan

Pecahnya Korea
Perang Dunia II
Konferensi Kairo 1943
1945 – 1948 Korea “Mandat PBB”

Adanya perbedaan konsep dan kepentingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet:
1. Rusia dan Cina masih 1 Kubu, komunisme  setelah Perang Dunia II ada kehendak bahwa dunia akan dipimpin oleh kubu komunisme  pahamnya lebih banyak di utara.
2. Saat eropa ingin masuk ke Korea  Korea harus membuka pelabuhannya untuk barat sehingga terpengaruh dari pemikiran ini dan menjadi lebih demokratis.
3. Unisoviet “aksi”  Amerika Serikat “mereaksi”
4. Uni Soviet selalu menegaskan bahwa Korea harus dibagi dua (pembagian  pemilu)  terjadilah perang Korea 1950-1953 (Korea Utara di bawah Uni Soviet dan Korea Selatan di bawah Amerika Serikat)  perang tidak mendatangkan hasil  Korea akhirnya terpecah.

15 Agustus 1948  Kemerdekaan Korea Selatan
25 Agustus 1948  Kemerdekaan Korea Utara



Karakteristik Sosial Ekonomi Korea:
-Pernah menjadi salah satu “Macan Asia”
-Keberhasilan Korea tahun 1980  akibat adanya keberhasilan dari seorang diktator militer (Park Chung Hae), namun sarat dengan sistem yang represif  Kemajuan ekonomi Korea Selatan.
-Kebijakan Ekonomi  tergantung pada perekonomian global (Ex: Jika terjadi suatu krisis, maka mereka kolaps)
Bersifat terbuka  bekerjasama dengan negara lain, MNc, dan sebagainya
Kemajuan teknologi informasi, sehingga bisa bersaing dengan produk luar yang berkembang cepat.

Karakteristik Budaya:
-Sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Cina.

Karakteristik Politik:
-Multipartai  Namun ada satu Partai yang mendominasi  Park Chun Hae membuat UU  DPR diberi wewenang untuk mengangkat sepertiga dari panitia pemilu.
-Sistem politiknya bersifat lebih stabil.

Karakteristik politik luar negeri Korea Selatan  Beraliansi ke Barat, bersifat lebih terbuka, menjalin hubungan baik dengan Cina dan ASEAN, melakukan kerjasama hubungan keamanan dengan Amerika Serikat.


Sumber:
Kuliah MBP Asia Timur, 8 Juni 2011.

Sabtu, 28 Mei 2011

KONSEKUENSI KULTURAL TERHADAP GLOBALISASI

1.Homogenisasi
Culture menjadi sesuatu yang tunggal (homogen)  sering diasosiasikan dengan kultur Barat (Amerika  Americanization). Konsekuensi ekonomi global (bercermin pada ekonomi Amerika), maka culture ikut mengglobal.
Amerikanisasi dianggap sebagai sebuah ancaman, sehingga timbul gerakan yang menolak homogenisasi budaya dengan berbagai macam bentuk. Ex: Jihad, gerakan-gerakan fundamentalisme, nasionalisme (semua bersifat cultural resistance). Ada kultur tertentu yang merasa terjajah oleh yang lain (Ex: Indonesianisasi mungkin lebih bebahaya dari Amerikanisasi untuk orang Papua; atau Japanization lebih berbahaya dari Americanization bagi orang Korea).

2.Polarisasi
Menganggap adanya “the limit of cultural homogenization”  polarization. Orientalisme (Edward)  seolah-olah menganggap bahwa Western lebih penting, populer, dominan, rasional, dan lebih benar dari Eastern. Ada semacam dikotomi antara Barat dan Timur. Barat: dinamis, rasional, civilize, fungsional, scientific; Timur: tidak berubah sama sekali, irrasional, barbarian, disfungsional, supercicious. Tidak akan ada homogenisasi budaya, tapi akan terus terpolarisasi (tidak mungkin tunggal). Pada intinya menganggap civilization yang sangat bertabrakan antara dunia Barat (Mc World) dan Timur.
Kritik: “How to define culture?”
Contoh polarisasi: Western mulai menuju ketimuran (Easternized) melalui kontak-kontak antar budaya.

3.Hibridisasi

Hasil dari pencampuran berbagai macam budaya. Ex: Bahasa Indonesia, Bahasa Esperanto (kontra: dianggap sebagai proyek gagal  dianggap bukan bahasa hibrid, dikonstruksi untuk dipakai dimana saja, namun gagal karena terlalu membingungkan). Interaksi kultural yang terus menerus akan membentuk hibridisasi (Ulf Hannerz, 1992). Sulit untuk mengatakan atau tidak ada jaminan bahwa budaya itu benar-benar murni, tanpa bercampur dengan budaya lain. Bisa berasal dari kolonialisasi, migrasi, cross-border employment, different cultural background intermarriage.

NB:
Revie Kuliah "Kosmopolitanisme, Nasionalisme, dan Fundamentalisme" (27 Mei 2011)

PROMISE

Oleh: Dinar Prisca Putri

Krizan dan Eza sudah terbiasa bersama bahkan semenjak mereka berada di Sekolah Dasar. Perbedaan latar belakang di antara keduanya pun tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalin sebuah hubungan persahabatan. Dan kini mereka telah duduk di bangku SMA. Namun ikatan yang sudah lama terbangun di antara keduanya harus terputus ketika Krizan terpaksa meninggalkan Jakarta dan tinggal bersama Pamannya di Surabaya, sepeninggal kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan. Layaknya Eza, Krizan pun sangat menyukai hujan. Baginya, aroma hujan bagaikan surga. Itu sebabnya, gadis keturunan Cina itu berjanji akan kembali saat musim hujan tiba dan meminta Eza untuk selalu menunggunya di halte depan sekolah. Namun semenjak kepergiannya, Eza tak pernah bertemu Krizan lagi.

Enam tahun telah berlalu. Dan sesuai janjinya, Krizan kembali. Semuanya masih sama di matanya. Bahkan halte di depan sekolah juga tak berubah. Hanya saja, tak ada Eza yang sedia menunggunya di sana. Sampai di Panti Asuhan tempat Eza dibesarkan, seorang kepala asrama memberikan sebuah buku harian kepadanya. Lagi-lagi, Krizan tak menemukan Eza. Ibu asrama juga tak mengatakan apa-apa perihal laki-laki itu. Hanya buku harian milik Eza yang berada di tangannya kini. Laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu menulis tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi bersama semasa kecil. Termasuk hutan di belakang sekolah. Gadis yang namaya menyerupai bunga Cryzantium itu menuju ke hutan, dengan harapan bahwa Eza juga berada di sana dan menunggunya. Ia menerobos jalanan hutan yang gelap, hingga menemukan seberkas sinar matahari di ujung jalan. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati tempat itu berisikan penuh dengan bunga Cryzantium putih yang tumbuh dengan indahnya di sana. Krizan melanjutkan perjalanan dan menemukan Eza. Ya, dia benar-benar menemukannya. Namun yang dilihatnya hanya sebuah batu nisan bertuliskan “Eza Mahardika” yang berdiri dengan kokonhnya di atas gundukan tanah merah yang masih basah.

Dear, Krizanku...
Maafkan aku. Mungkin aku tak bisa menepati janjiku untuk menunggumu di setiap musim hujan tiba, di halte bus depan sekolah. Karena saat kau membaca halaman terakhir dari buku harian ini, mungkin kau sudah menemukan aku (jika kau beruntung). Tapi pada saat itu, kita tak bisa lagi bertatap muka atau bahkan sekedar berbincang-bincang ringan seperti dulu.
Sebelumnya Kuputuskan untuk menanam banyak sekali bunga Cryzantium putih untuk membunuh rasa rinduku padamu. Aku menyayangimu Krizan. Bahkan mungkin aku mulai mencintaimu sekarang. Dan perasaan itulah yang terus memberi aku kekuatan. Penyakit kanker yang bersarang di otakku, mengharuskan aku untuk melakukan operasi. Namun aku tak pernah melakukannya. Karena jika operasi itu berjalan lancar, aku akan kehilangan memori apapun di otakku, termasuk tentangmu, tentang kita. Dan aku tak mau. Aku ingin mengingat namamu sampai saat aku pergi nanti.
Selamat tinggal Krizan, kepalaku sudah bertambah sakit sekarang. Dan pertahananku nampaknya mulai terkikis secara perlahan. Permintaanku sangat sederhana. Ingatlah aku di saat kesenangan dan kesusahanmu,karena dengan begitu aku akan tetap hidup.
Eza Mahardika
Mei 2011


Air mata Krizan jatuh bersama rintihan hujan yang terus turun. Dan sekilas yang cepat, ia mlihat Eza berdiri di sampingnya.

Rabu, 11 Mei 2011

For Mahasti

My little sister (Mahasti Ramadita Putri almh.).....
I miss you so much (again).
Hope you be in the best place on God's side.

:')
I believe you no longer feel pain near The God.

Selasa, 10 Mei 2011

PENCAPAIAN ASEAN DALAM PEMBENTUKAN KOMUNITAS KEAMANAN ASEAN

Oleh: Dinar Prisca Putri

Keberlangsungan ASEAN Security Community sebagai salah satu pilar dari ASEAN Community yang diusung dalam Deklarasi Bali Concord II telah memunculkan banyak perdebatan di kalangan akademis dan para peneliti. Mereka diantaranya adalah Karl Deutch yang beraliran liberal dan Michael Liefer yang beraliran realis. Kedua tokoh tersebut pada dasarnya tidak setuju apabila ASEAN dijadikan sebagai suatu model komunitas keamanan. Sebab menurut mereka, ASEAN belum memenuhi syarat-syarat suatu komunitas bisa disebut sebagai komunitas kemanan.

Menurut pandangan Deutch, selain tidak adanya konflik bersenjata yang menyangkut perbatasan dan sejenisnya, suatu masyarakat keamanan dicirikan dengan tidak adanya rasa saling curiga terhadap negara-negara tetangga atas kemungkinan dilakukannya serangan. Dengan kata lain, terdapat jaminan bahwa tidak akan ada suatu negara yang dengan sengaja “menciderai” negara lain. Syarat suatu komunitas menurut Deutch sendiri, antara lain adalah adanya integrasi, interdependensi, supra level institution, dan communality.

Integrasi ditandai dengan adanya pembentukan suatu organisasi yang bersifat formal maupun informal yang dapat menjamin terciptanya suatu perdamaian yang berkelanjutan. Integrasi juga tidak selalu hanya bisa diartikan dengan hilangnya sebagian kedaulatan suatu negara, tapi dalam hal ini lebih kepada interdependensi yang kuat dalam berbagai hal antara negara satu dengan negara yang lain. Contoh sederhana adalah besar biaya atau tarif telepon lintas negara, antara Australia dan Indonesia yang sangat jauh berbeda. Hal itu tentu saja dapat menunjukkan kurang adanya integrasi antar kedua negara tersebut. Selain itu, faktor communality dalam hal persamaan ideologi, budaya, sosial, dan agama juga tidak tercermin dalam komunitas ASEAN. Kita sendiri mengetahui bahwa negara-negara anggota ASEAN terdiri dari beragam ideologi, budaya, dan agama yang berbeda. Oleh karena itu menurut Deutch, sangat sulit sekali untuk mempersatukan negara-negara kawasan Asia Tenggara di bawah payung suatu komunitas ASEAN. Berbeda dengan Uni Eropa yang megharuskan negara-negara yang hendak menjadi anggota UE untuk memiliki ideologi yang sama, yaitu Demokrasi. Dengan demikian akan mudah untuk membentuk suatu komunitas.

Sementara dalam pandangan realis yang diwakili oleh Michael Liefer, suatu komunitas haruslah memiliki persepsi ancaman yang sama (negara mana yang ditengarai menjadi ancaman bagi negara lain). Jika tidak, akan sangat sulit untuk membentuk suatu komunitas, khususnya sebuah komunitas keamanan yang menjadi impian negara-negara anggota ASEAN. Perbedaan persepsi tersebut disebabkan oleh adanya beberapa hal yang bersifat signifikan, salah satunya seperti hubungan suatu negara dengan negara lain. Contoh, hubungan Singapura dan Israel yang sangat dekat, berbeda dengan Indonesia yang cenderung mengecam setiap tindakan dari Israel (khususnya menyangkut masalah Palestina).

Akhirnya, prospek pencapaian atau keberhasilan ASEAN dalam pembentukan ASEAN Community yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community), Masyarakat Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community), dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Econimic Community) akan dapat dilihat melalui terlaksana atau tidaknya Visi ASEAN 2020 (yang diajukan menjadi tahun 2015), mengingat banyak sekali kendala dan tantangan yang harus dihadapi ASEAN sendiri dalam mewujudkan suatu komunitas di dalam wadah ASEAN Community.


NB:
Berdasarkan kuliah MBP Asia Tenggara, 10 Mei 2011.

PENCAPAIAN ASEAN DALAM PEMBENTUKAN KOMUNITAS KEAMANAN ASEAN

Oleh: Dinar Prisca Putri

Keberlangsungan ASEAN Security Community sebagai salah satu pilar dari ASEAN Community yang diusung dalam Deklarasi Bali Concord II telah memunculkan banyak perdebatan di kalangan akademis dan para peneliti. Mereka diantaranya adalah Karl Deutch yang beraliran liberal dan Michael Liefer yang beraliran realis. Kedua tokoh tersebut pada dasarnya tidak setuju apabila ASEAN dijadikan sebagai suatu model komunitas keamanan. Sebab menurut mereka, ASEAN belum memenuhi syarat-syarat suatu komunitas bisa disebut sebagai komunitas kemanan.

Menurut pandangan Deutch, selain tidak adanya konflik bersenjata yang menyangkut perbatasan dan sejenisnya, suatu masyarakat keamanan dicirikan dengan tidak adanya rasa saling curiga terhadap negara-negara tetangga atas kemungkinan dilakukannya serangan. Dengan kata lain, terdapat jaminan bahwa tidak akan ada suatu negara yang dengan sengaja “menciderai” negara lain. Syarat suatu komunitas menurut Deutch sendiri, antara lain adalah adanya integrasi, interdependensi, supra level institution, dan communality.

Integrasi ditandai dengan adanya pembentukan suatu organisasi yang bersifat formal maupun informal yang dapat menjamin terciptanya suatu perdamaian yang berkelanjutan. Integrasi juga tidak selalu hanya bisa diartikan dengan hilangnya sebagian kedaulatan suatu negara, tapi dalam hal ini lebih kepada interdependensi yang kuat dalam berbagai hal antara negara satu dengan negara yang lain. Contoh sederhana adalah besar biaya atau tarif telepon lintas negara, antara Australia dan Indonesia yang sangat jauh berbeda. Hal itu tentu saja dapat menunjukkan kurang adanya integrasi antar kedua negara tersebut. Selain itu, faktor communality dalam hal persamaan ideologi, budaya, sosial, dan agama juga tidak tercermin dalam komunitas ASEAN. Kita sendiri mengetahui bahwa negara-negara anggota ASEAN terdiri dari beragam ideologi, budaya, dan agama yang berbeda. Oleh karena itu menurut Deutch, sangat sulit sekali untuk mempersatukan negara-negara kawasan Asia Tenggara di bawah payung suatu komunitas ASEAN. Berbeda dengan Uni Eropa yang megharuskan negara-negara yang hendak menjadi anggota UE untuk memiliki ideologi yang sama, yaitu Demokrasi. Dengan demikian akan mudah untuk membentuk suatu komunitas.

Sementara dalam pandangan realis yang diwakili oleh Michael Liefer, suatu komunitas haruslah memiliki persepsi ancaman yang sama (negara mana yang ditengarai menjadi ancaman bagi negara lain). Jika tidak, akan sangat sulit untuk membentuk suatu komunitas, khususnya sebuah komunitas keamanan yang menjadi impian negara-negara anggota ASEAN. Perbedaan persepsi tersebut disebabkan oleh adanya beberapa hal yang bersifat signifikan, salah satunya seperti hubungan suatu negara dengan negara lain. Contoh, hubungan Singapura dan Israel yang sangat dekat, berbeda dengan Indonesia yang cenderung mengecam setiap tindakan dari Israel (khususnya menyangkut masalah Palestina).

Akhirnya, prospek pencapaian atau keberhasilan ASEAN dalam pembentukan ASEAN Community yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community), Masyarakat Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community), dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Econimic Community) akan dapat dilihat melalui terlaksana atau tidaknya Visi ASEAN 2020 (yang diajukan menjadi tahun 2015), mengingat banyak sekali kendala dan tantangan yang harus dihadapi ASEAN sendiri dalam mewujudkan suatu komunitas di dalam wadah ASEAN Community.


NB:
Berdasarkan kuliah MBP Asia Tenggara, 10 Mei 2011.

Kamis, 28 April 2011

Doa Ketika Mendapat Mimpi Buruk

أَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ وَسَيِّئاَتِ اْلأَحْلاَمِ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN AMALISY SYAITHAANI WASAYYI-AATIL AHLAAM.

"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari tingkah laku setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk."

Sabtu, 26 Maret 2011

Entah Sebuah Penyesalan atau Bukan

Padahal aku belum sempat bertemu denganmu.
Benar-benar mengenalmu pun tidak.
Bahkan cerita-cerita yang kita risaukan selama ini belum menemukan akhirnya.
Tapi nyatanya kau pergi lebih cepat dari yang kukira.
Bahkan tanpa kata “selamat tinggal”.
Atau sekedar menitipkan salammu pada tanah, pepohonan, dan hujan yang masih terus turun.

Surabaya, 26 Maret 2011.

RINDU SEDERHANA

Aku rindu bercerita tentang langit yang selalu merah di malam hari.
Aku rindu bercerita tentang mimpi-mimpi yang sangat sulit ditemui.
Aku rindu bercerita tentang hari yang kadang dengan mudah dilalui.
Aku rindu bercerita tentang apa saja denganmu.
Sebuah rindu yang teramat sederhana.

Surabaya, 26 Maret 2011
Saat rinduku menitikkan air mata. Aku benar-benar rindu.